Rabu, 05 Juni 2013

Resensi Buku



Meniti Kesuksesan dengan Enam Pilar Kehidupan
Judul        : 6 Kecerdasan Seni Menata Hidup
Penulis      : Ahmad Al Barra’ Al Amiri
Penerbit  : Tarbawi Press
Cetakan : I, Desember 2012
Tebal        : x 204 Halaman
Ketiga pilar tersebut adanya di dalam diri. Berhasil dan tidaknya seseorang dalam mengelolanya bisa dilihat dari Kecerdasan Sosial sebagai pilar keempat. Hal ini merupakan masalah penting yang seringkali luput dari perhatian.
Betapa banyak orang yang memimpikan sukses, namun tidak sedikit dari mereka yang justru gagal dalam hidup karena banyak faktor, mulai dari salah memahami makna sukses, salah cara menggapainya, sampai ketidakjelasan tujuan.
Buku yang merupakan rangkuman setengah abad perjalanan hidup penulisnya ini mengajak para pembaca untuk meneliti satu persatu pilar-pilar kesuksesan. Jika diibaratkan, sukses adalah bangunan utuh terdiri dari enam pilar yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Kecerdasan Spiritual adalah pilar pertama. Hal ini sesuai dengan maksud diciptakannya manusia ke dunia ini. Tuhan menugaskan manusia ke dunia dengan bermacam-macam kewajiban. Mereka dianggap sukses bila mampu menjalankan perintah-perintah Allah. Maka, kecerdasan spiritual erat kaitannya dengan seberapa baik hubungan antara seseorang dengan penciptanya.
Selanjutnya adalah Kecerdasan Jiwa. Dalam hali ini, penulis mengatakan, "Spiritual dan jiwa satu sama lain saling terkait. Dan ini adalah hal yang alami. Karena manusia itu semuanya satu kesatuan" (hal 71). Di dalam bab ini, penulis setidaknya menyajikan tentang tiga hal. Keutamaan yang harus diperoleh dan kehinaan yang harus dihindari. Tujuh karakter jiwa dan cara mengambil manfaat darinya serta beberapa nasihat untuk melepaskan diri dari keresahan.  Spiritual dan jiwa erat kaitannya dengan hati. Oleh karenanya, kedua pilar tersebut hanya bisa diperoleh dengan banyak mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebagai sumber dari segala macam kebaikan di muka bumi ini.
Pilar ketiga adalah Kecerdasan Pikiran. Pusat dari kecerdasan ini ada di dalam otak. Untuk mencapai derajat cerdas pikiran, penulis menyebutkan empat hal yang bisa dilakukan: beretika yang luhur, berdiskusi, membaca dan menulis (hal 126-132). Di dalam bab ini, disebutkan pula jenis-jenis berpikir dan kesalahan-kesalahannya.
Ketiga pilar tersebut adanya di dalam diri. Berhasil dan tidaknya seseorang dalam mengelolanya bisa dilihat dari Kecerdasan Sosial sebagai pilar keempat. Hal ini merupakan masalah penting yang seringkali luput dari perhatian. Sehingga, banyak dijumpai orang yang kualitas hubungannya baik dengan penciptanya namun kasar terhadap istri dan keluarganya. Atau seseorang yang secara kognitif pandai, bergelar doktor, namun korupsi.
Keempat pilar itu terasa kurang lengkap tanpa adanya Kecerdasan Fisik. Dalam keadaan sehat, dua hal yang harus dilakukan adalah mengonsumsi makanan sehat dan olah raga sesuai dengan kemampuan. Sedangkan dalam keadaan sakit, penulis membeberkan sepuluh nasihat bijak terkait sakit. Di antaranya, "Bekali diri dengan wawasan kesehatan! Bacalah buku-buku bermutu tentang kesehatan umum, penyakit-penyakit yang sedang mewabah dan sarana-sarana pengobatan" (hal 172).
Terakhir adalah Kecerdasan Harta. Komponen utamanya ada pada tiga hal: perencanaan, pembukuan, dan analisis. Intinya merencanakan seberapa besar pendapatan, membukukan setiap pengeluaran dan menganalisis kedua hal tersebut. Yang menarik, ditegaskan bahwa kebahagiaan (kesuksesan) bukanlah terletak pada banyak harta seseorang. Karena banyaknya harta dan kebahagiaan dua hal yang sangat berbeda (hal 177).

*******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih.......